talora07

Archive for August, 2008|Monthly archive page

Malam Budaya PIBBI

In Berita on August 14, 2008 at 11:11 am

SALATIGA — Griya Pelatihan Bahasa Universitas Kristen Satya Wacana menggelar Malam Budaya pada 18 Juli 2008 di Laras Asri Resort & Spa. Malam Budaya ini digelar sebagai acara perpisahan peserta program Pengenalan Intensif Bahasa dan Budaya Indonesia (PIBBI) ke-53.

Malam Budaya diisi dengan peragaan seni membatik, memasak, dan gamelan oleh para peserta PIBBI. Ada pula penampilan Ashira Choir yang membawakan lagu bahasa Jawa, Gethuk. Para peserta PIBBI dan staf Griya Pelatihan Bahasa membawakan lagu Apuse asal Papua dalam satu permainan angklung bersama.

Pada puncak acara, dilakukan pembagian ijazah dan cinderamata — berupa selendang serta gelang asal Papua — kepada duabelas lulusan PIBBI ke-53. Berikut adalah nama-nama peserta yang lulus dengan tingkat yang berhasil mereka capai: Anton Harper (tingkat dua), Carissa Liddle (tingkat dua), Kestrel Andrews (tingkat dua), Lyla Kere (tingkat dua), Amy Durston (tingkat empat), Jamie Stoops (tingkat empat), Zhipeng Huang (tingkat empat), Megan Frazer (tingkat lima), Jacinta Spinks (tingkat enam), Luke Rafter (tingkat enam), Nick Tamblyn (tingkat enam), dan Toby McFadden (tingkat enam).

Tingkat menunjukkan jenjang pendidikan bahasa yang peserta tempuh selama program PIBBI. Tingkat tertinggi adalah tingkat enam.

“Saya sangat senang bisa berada di sini, dan bagi saya semua yang telah saya lalui dan jalani selama empat minggu ini sangatlah bermanfaat,” tutur Luke Rafter, peserta yang berasal dari Australia.

“Pendidikan + IT”, Seberapa Penting IT di NTT

In Opini on August 14, 2008 at 11:10 am

Ferdinand U.R. Anaboeni – Kecenderungan penggunaan akses pencarian Informasi yang berbasis Teknologi Informasi ( TI ) dan Internet (International Network) sudah sangat sering kita dengar saat ini. Surat kabar dan majalah dipenuhi dengan cerita sukes dan gagal dari individu atau perusahaan yang merangkul IT dan Internet. Disisni saya akan sedikit mengulas implikasi IT terhadap bidang Pendidikan, khususnya pendidikan di daerah NTT.

Nusa Tenggara Timur, yang pada zaman kekuasaan Belanda merupakan bagian dari Sunda kecil, merupakan sebuah propinsi kepulauan di wilayah Indonesia bagian tengah. Kemiskinan serta keterbelakangan begitu terasa di segala aspek kehidupan masyarakatnya. Pendidikan yang seharusnya terjamah dan menjamah masyarakat disana, malah terasa semakin menjauh dan jauh dari harapan para pembuat UUD 45, khususnya yang tersirat pada pasal 31.

Teknologi informasi sebagai sebuah teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan dan mamanipulasi data, dalam prakteknya sebebenarnya dapat digunakan secara tepat guna dalam mendukung perkembangan pendidikan di NTT yang notabenenya masih terbelakang. Teknologi yang dimaksud, menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi ini digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. Dalam hal ini Teknologi Internet, international Network sebagai sarana IT yang paling mudah dipakai untuk menunjang pendidikan di NTT.

Adanya Internet membuka sumber informasi yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi masalah lagi. Perpustakaan sebagai salah satu akses dan sarana penunjang pendidikan, merupakan sumber informasi yang mahal harganya.

Ada berapa banyak perpustakan di NTT? Bagaimana kualitas buku-buku yang tersedia disana?

Adanya Internet memungkinkan seseorang di NTT untuk mengakses perpustakaan di Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung bahkan Amerika Serikat dan negara-negara lain di seluruh dunia. Cukup dengan sekali ‘click’, beragam infomasi dapat kita akses dan peroleh.

Bayangkan apabila seorang mahasiswa di kepulauan NTT dapat berdiskusi masalah ilmu kedokteran dengan seorang pakar di universitas terkemuka di pulau Jawa melalui sebuah situs web. Mahasiswa dimanapun di NTT dapat mengakses pakar atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. “Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi”.

Secara pribadi saya (penulis, Red) telah mengenal Nusa Tenggara Timur sejak usia 5 tahun. Pendidikan yang berjalan disana dirasa terlalu monoton. Akses informasi pendidikan begitu terbatas pada tatap muka di kelas. Kualitas guru dalam penyampaian ilmu dirasa sangat kurang. Setelah saya melanjutkan studi di Universitas Kristen Satya Wacana – Salatiga, saya begitu terpukau dengan perbedaan yang terjadi diantara mahasiswa asal daerah Indonesia Timur dan mahasiswa asal daerah Indonesia barat, terkhusus dari pulau Jawa. Pemahaman akan mata kuliah yang diterima dapat dengan cepat mereka serap.

Mengapa bisa seperti itu ? Apa yang begitu membedakan di antara kami, padahal ilmu yang kami terima sama saja bukan?

Dengan adanya perkembangan teknologi informasi, maka saat ini sangat dimungkinkan untuk mengakses informasi dalam bentuk apapun melalui Internet, oleh karena itu pengenalan IT sejak usia dini dirasa sangat perlu untuk menambah database keilmuan yang dimiliki oleh para siswa serta guru dan pengajar, tentunya tidak hanya terbatas pada tatap muka dikelas saja. Kita harus belajar dari kemajuan daerah lain di Indonesia yang telah sukses dalam menerapkan IT disegala bidang kehidupan, pendidikan juga termaksud. Ketersediaan sarana IT di wilayah Indonesia bagian barat berkembang dengan sangat cepat Pemerintah dalam hal ini PEMDA NTT, sekolah serta masyarakat bisnis IT diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam perkembangan IT di NTT sebagai sarana penunjang perkembangan pendidikan yang berkualitas dan dapat bersaing di era Globalisasi ini.

Saat ini pula, dengan adanya perkembangan teknologi informasi dalam bidang pendidikan, maka sudah dimungkinkan untuk diadakan belajar jarak jauh dengan menggunakan media internet untuk menghubungkan antara mahasiswa/siswa dengan dosen/guru/pengajar, melihat nilai mahasiswa secara online, mengecek keuangan, melihat jadwal kuliah, mengirimkan berkas tugas yang diberikan dosen dan sebagainya, semuanya itu sudah dapat dilakukan. Salah satu manfaaat utama dari pembelajaran jarak jauh adalah dapat menyediakan pendidikan yang diakses oleh banyak orang. Coba bayangkan, jika pendidikan hanya dilakukan di kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut dalam 1 kelas? Jumlah pesertanya tentu hanya dapat diisi ± 50 orang saja. Pembelajaran jarak jauh (Distance Learning) dapat diakses oleh siapa saja, dimana saja.

Kebekuan yang terlampau lama akan kebutuhan informasi dari masyarakat NTT sudah saatnya dicairkan, kegelapan yang selama ini menyelimuti dunia pendidikan di NTT sudah selayaknyalah diterangi dengan secercah cahaya. Memaksimalkan penggunaan Teknologi secara tepat guna dalam bidang pendidikan di NTT harus dimulai dari sekarang. Disini penulis hanya dapat menghimbau “mari bersama, semua elemen penopang pendidikan, bangkit dan bersatu demi masa depan generasi-generasi penerus daerah, anak cucu kita tercinta serta kejayaan pendidikan di NTT”.

ADAT versus CINTA

In Opini on August 14, 2008 at 11:08 am

Ferdinand U.R Anaboeni – Dua minggu sudah aku tersiksa oleh pahitnya cinta, cinta yang terbelenggu oleh aturan main para penetua-penetua adat yang selalu menutup mata mereka tanpa mau mengikuti arus perubahan zaman.

Siksaan ini bagaikan sebuah belati yang menusuk tepat di jantung. Sebuah tusukan yang membuat darah mengalir keluar dengan deras dan mengakibatkan kekeringan total bagi tubuh. Tubuh yang kering oleh darah ini bagaikan sebuah pohon ara yang berada di tengah gurun sinai yang rindu dan haus akan jernihnya air kehidupan, ‘CINTA’.

Aku bukanlah seorang antipartian yang tak mengakui dan menentang eksisnya sebuah adat kebiasaan dan hukum adat. Selama hidupku, aku tak dibesarkan dibawah bayang-bayang hukum dan peraturan adat. Aku terlahir di dalam keluarga yang penuh kasih serta cinta dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, moderenisasi dan liberalis.

Liberalis, seluruh anggota keluarga bebas dalam menentukan arah dan tujuan hidupnya tanpa mengesampingkan hukum kasih Kristus.

Demokrasi, seluruh anggota keluarga memiliki hak untuk mengemukakan pandangan dan pendapatnya tanpa mengesampingkan pendapat serta pandangan dari anggota keluarga yang lain.

Moderenisasi, seluruh anggota keluarga selalu mengikuti perkembangan zaman tanpa mengesampingkan norma dan etika dalam bermasyarakat.

Ketiga nilai itulah yang membuat aku tumbuh dan berkembang menjadi seorang human perfect. Secara pribadi, Human perfect berarti, bagaimana seorang manusia dalam kehidupan sosialnya selalu menempatkan kasih karunia Tuhan dalam hidup dan kehidupan sehari-hari. Aturan dan tata cara hidup bersosial selain hukum kasih bagiku hanyalah second law atau pelengkap. Sama halnya dengan adat kebiasaan dan hukum adat, hukum kasihlah yang harus menjadi first priority, bukan Dia (hukum adat, Red).

Hukum adat oleh wikipedia didefinisikan sebagai: “sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya seperti Jepang, India dan Tiongkok. Sumbernya adalah peraturan-peraturan tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang, maka hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis.” Yang perlu digaris bawahi adalah, hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis.

Bagi Kahlil Gibral, ia menyebut hukum adat dengan kebiasaan (tradisi, Red) yang usang sebagai sebuah bentuk perbudakan (mengacu pada ‘Perbudakan’ karya Gibran dlm. Martin L. Wolf (ed), Treasury of Kahlil Gibran, Yogyakarta: Tarawang Press, 2002). Pada zaman Gibran – dan mungkin sampai saat ini di hampir sebagian besar di Timur Tengah – masih menganggap adat kebiasaan dan hukum adat sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang mesti ditaati dan dihormati, tanpa mengindahkan hakikatnya yang sesungguhnya. Bahwa hukum adat dan kebiasaan harus berangkat dari kepentingan kemanusiaan, dan harus pula menjunjung tinggi nilai-nilai asasi manusia. “Aku temukan perbudakan buta, yang mengikat kehidupan manusia dengan kelampauan zaman para orang tua, dan mendesaknya tunduk pada adat dan kebiasaan mereka, dengan menempatkan semangat kuno dalam raga belia.”

Gibran menyebut hukum adat dan kebiasaan sebagai bentuk perbudakan buta, karena keduanya yang seharusnya memberikan dan menunjang nilai-nilai kemanusiaan justru sebaliknya menjadi pembelenggu kebebasan manusia.

Tak salah bila Gibran berpendapat seperti itu, sebagai contoh, dalam adat Padang Priangan (sumatera barat) seorang wanita diharuskan membayar sejumlah uang untuk membeli calon suaminya (istilahnya uang jemputan). Jumlah uang itu terbilang cukup besar antara 50-75 jutaan. Gila Bukan!! Lain lagi dengan budaya kawin/nikah paksa di hampir seluruh wilayah nusantara yang berlandaskan keinginan materil, budaya ini jelas memposisikan wanita sebagai warga kelas dua yang tak boleh didengarkan pendapat serta keinginan hatinya dan hanya akan menjadi obyek kekuasaan (orang tua, Red).

Gibran menyebut perbudakan jenis ini (kawin paksa, Red) sebagai perbudakan bisu, karena lingkungan sosial, tempat dimana hukum adat dan kebiasaan dijaga dan diwariskan tak dapat mendengar jeritan hati seorang wanita akan cinta yang sesungguhnya. “Aku temukan perbudakan bisu, yang mengikat kehidupan pria pada istri yang dibenci, dan menempatkan raga wanita di ranjang suami yang dibencinya, dan mematikan keduanya pada api hidup kerohanian mereka.”

Terkhusus untuk wilayah Anakalang – Sumba Tengah, tempat mengambil seorang istri dalam tata cara adat telah dibuatkan semacam peta wilayah administratifnya. Lelaki dari kampung A hanya boleh mengambil wanita dari kampung B, lelaki kampung A tidak boleh mengambil wanita dari kampung D, lelaki kampung B hanya boleh mengambil wanita dari kampung D dan lain sebagainya. Hal ini menurut beberapa narasumber bertujuan untuk menjaga kemurnian ras dan ikatan keluarga. Jadi dalam hukum perkawinan adat di Anakalang, seorang lelaki tidak boleh dengan sembarangan mendekati, memacari terlebih mempersunting seorang wanita.

Hhmm. . . . .sungguh berat. . .

Perasan cinta, kasih dan sayang layaknya sebuah boneka kayu yang terikat pada seutas tali dan sedang dipermainkan kesana dan kemari. Bila ikatan darah yang menjadi persoalan, ada dua pertanyaan yang perlu mendapatkan jawaban:

pertama, mengapa terdapat aturan adat yang memperbolehkan anak dari tante untuk mengambil anak omnya? Mengambil anak om sebagai istri bila dikaitkan dengan hubungan pertalian darah (biologis/gen) tentu saja tak dapat dibenarkan. Keturunan pertama dari saudara-bersaudari boleh saling mempersuntung istri, hal ini jelas menunjukkan dekatnya hubungan darah (sepupu kandung).

Pertanyaan kedua, bila seorang anak lelaki tante boleh mengambil anak perempuan dari omnya, bolehkah dibalik, seorang anak lelaki dari om mengambil seorang anak perempuan dari tante?

Alasan mengapa diberlakukannya wilayah administrative untuk mengambil calon istri berdasar pada data record keluar masuknya seorang anggota keluarga saat pernikahan dan juga asal muasal garis keturunan.

Bagaimana dengan pasangan muda-mudi yang karena cinta dan kasih sayang harus berbenturan dengan adat itu?? Maksudnya, pria dari kampung A ingin mengambil seorang wanita yang sangat dicintainya dari wilayah kampung yang secara adat dilarang. Bila ditilik dari garis keturunan jelas sudah sangat jauh hubungan pertalian darahnya. Mengapa masih saja tidak diperbolehkan?? Kenapa hubungan pertalian darah dekat malah diperbolehkan?? Bila dipaksakan pun hanya akan menjadi bahan cacian, makian serta pengucilan didalam masyarakat.

Sungguh tragis. . . . . Buat apa kita beragama kalau kita lebih mementingkan adat daripada agama. Bukankah secara ajaran agama, tidak ada penyelewengan terhadap ajaran-ajaranNya.

“Cinta telah berdiri di antara mereka, mengepakkan sayap untuk menjaga keduanya dari cercaan dan tikaman lidah-lidah manusia. Aku melihat saling pengertian tumbuh dari wajah-wajah jernih yang memancarkan keikhlasan dan dikelilingi kesucian. Baru kudapatkan untuk pertama kali selama hidupku, bayang-bayang kebahagiaan seorang pria dan wanita yang dihinakan oleh tatanan agama, dan dikucilkan oleh hukum-hukum manusia.” (Khalil Gibran)

Cinta yang dibangun dan dibina berlandaskan kasih karunia Tuhan tak akan dapat diruntuhkan oleh siapaun juga, termasuk aturan-aturan adat. Sudah saatnya hukum serta peraturan adat diformalisasi dan kembali pada sifatnya yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis.

“Apakah manusia akan terus menerus menjadi hambatan tatanan hukum yang bobrok sampai akhir zaman? Ataukah hari-hari cerah akan membebaskan manusia agar dapat hidup dengan jiwanya? Apakah manusia akan tetap dibungkus dengan debu? Ataukah ia hadapkan kedua matanya ke arah matahari, agar tak dapat melihat jasadnya di antara onak dan bongkahan tulang-belulang?” (Khalil Gibran)

*** The Myth ***