talora07

ADAT versus CINTA

In Opini on August 14, 2008 at 11:08 am

Ferdinand U.R Anaboeni – Dua minggu sudah aku tersiksa oleh pahitnya cinta, cinta yang terbelenggu oleh aturan main para penetua-penetua adat yang selalu menutup mata mereka tanpa mau mengikuti arus perubahan zaman.

Siksaan ini bagaikan sebuah belati yang menusuk tepat di jantung. Sebuah tusukan yang membuat darah mengalir keluar dengan deras dan mengakibatkan kekeringan total bagi tubuh. Tubuh yang kering oleh darah ini bagaikan sebuah pohon ara yang berada di tengah gurun sinai yang rindu dan haus akan jernihnya air kehidupan, ‘CINTA’.

Aku bukanlah seorang antipartian yang tak mengakui dan menentang eksisnya sebuah adat kebiasaan dan hukum adat. Selama hidupku, aku tak dibesarkan dibawah bayang-bayang hukum dan peraturan adat. Aku terlahir di dalam keluarga yang penuh kasih serta cinta dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, moderenisasi dan liberalis.

Liberalis, seluruh anggota keluarga bebas dalam menentukan arah dan tujuan hidupnya tanpa mengesampingkan hukum kasih Kristus.

Demokrasi, seluruh anggota keluarga memiliki hak untuk mengemukakan pandangan dan pendapatnya tanpa mengesampingkan pendapat serta pandangan dari anggota keluarga yang lain.

Moderenisasi, seluruh anggota keluarga selalu mengikuti perkembangan zaman tanpa mengesampingkan norma dan etika dalam bermasyarakat.

Ketiga nilai itulah yang membuat aku tumbuh dan berkembang menjadi seorang human perfect. Secara pribadi, Human perfect berarti, bagaimana seorang manusia dalam kehidupan sosialnya selalu menempatkan kasih karunia Tuhan dalam hidup dan kehidupan sehari-hari. Aturan dan tata cara hidup bersosial selain hukum kasih bagiku hanyalah second law atau pelengkap. Sama halnya dengan adat kebiasaan dan hukum adat, hukum kasihlah yang harus menjadi first priority, bukan Dia (hukum adat, Red).

Hukum adat oleh wikipedia didefinisikan sebagai: “sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya seperti Jepang, India dan Tiongkok. Sumbernya adalah peraturan-peraturan tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang, maka hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis.” Yang perlu digaris bawahi adalah, hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis.

Bagi Kahlil Gibral, ia menyebut hukum adat dengan kebiasaan (tradisi, Red) yang usang sebagai sebuah bentuk perbudakan (mengacu pada ‘Perbudakan’ karya Gibran dlm. Martin L. Wolf (ed), Treasury of Kahlil Gibran, Yogyakarta: Tarawang Press, 2002). Pada zaman Gibran – dan mungkin sampai saat ini di hampir sebagian besar di Timur Tengah – masih menganggap adat kebiasaan dan hukum adat sebagai satu-satunya sumber kebenaran yang mesti ditaati dan dihormati, tanpa mengindahkan hakikatnya yang sesungguhnya. Bahwa hukum adat dan kebiasaan harus berangkat dari kepentingan kemanusiaan, dan harus pula menjunjung tinggi nilai-nilai asasi manusia. “Aku temukan perbudakan buta, yang mengikat kehidupan manusia dengan kelampauan zaman para orang tua, dan mendesaknya tunduk pada adat dan kebiasaan mereka, dengan menempatkan semangat kuno dalam raga belia.”

Gibran menyebut hukum adat dan kebiasaan sebagai bentuk perbudakan buta, karena keduanya yang seharusnya memberikan dan menunjang nilai-nilai kemanusiaan justru sebaliknya menjadi pembelenggu kebebasan manusia.

Tak salah bila Gibran berpendapat seperti itu, sebagai contoh, dalam adat Padang Priangan (sumatera barat) seorang wanita diharuskan membayar sejumlah uang untuk membeli calon suaminya (istilahnya uang jemputan). Jumlah uang itu terbilang cukup besar antara 50-75 jutaan. Gila Bukan!! Lain lagi dengan budaya kawin/nikah paksa di hampir seluruh wilayah nusantara yang berlandaskan keinginan materil, budaya ini jelas memposisikan wanita sebagai warga kelas dua yang tak boleh didengarkan pendapat serta keinginan hatinya dan hanya akan menjadi obyek kekuasaan (orang tua, Red).

Gibran menyebut perbudakan jenis ini (kawin paksa, Red) sebagai perbudakan bisu, karena lingkungan sosial, tempat dimana hukum adat dan kebiasaan dijaga dan diwariskan tak dapat mendengar jeritan hati seorang wanita akan cinta yang sesungguhnya. “Aku temukan perbudakan bisu, yang mengikat kehidupan pria pada istri yang dibenci, dan menempatkan raga wanita di ranjang suami yang dibencinya, dan mematikan keduanya pada api hidup kerohanian mereka.”

Terkhusus untuk wilayah Anakalang – Sumba Tengah, tempat mengambil seorang istri dalam tata cara adat telah dibuatkan semacam peta wilayah administratifnya. Lelaki dari kampung A hanya boleh mengambil wanita dari kampung B, lelaki kampung A tidak boleh mengambil wanita dari kampung D, lelaki kampung B hanya boleh mengambil wanita dari kampung D dan lain sebagainya. Hal ini menurut beberapa narasumber bertujuan untuk menjaga kemurnian ras dan ikatan keluarga. Jadi dalam hukum perkawinan adat di Anakalang, seorang lelaki tidak boleh dengan sembarangan mendekati, memacari terlebih mempersunting seorang wanita.

Hhmm. . . . .sungguh berat. . .

Perasan cinta, kasih dan sayang layaknya sebuah boneka kayu yang terikat pada seutas tali dan sedang dipermainkan kesana dan kemari. Bila ikatan darah yang menjadi persoalan, ada dua pertanyaan yang perlu mendapatkan jawaban:

pertama, mengapa terdapat aturan adat yang memperbolehkan anak dari tante untuk mengambil anak omnya? Mengambil anak om sebagai istri bila dikaitkan dengan hubungan pertalian darah (biologis/gen) tentu saja tak dapat dibenarkan. Keturunan pertama dari saudara-bersaudari boleh saling mempersuntung istri, hal ini jelas menunjukkan dekatnya hubungan darah (sepupu kandung).

Pertanyaan kedua, bila seorang anak lelaki tante boleh mengambil anak perempuan dari omnya, bolehkah dibalik, seorang anak lelaki dari om mengambil seorang anak perempuan dari tante?

Alasan mengapa diberlakukannya wilayah administrative untuk mengambil calon istri berdasar pada data record keluar masuknya seorang anggota keluarga saat pernikahan dan juga asal muasal garis keturunan.

Bagaimana dengan pasangan muda-mudi yang karena cinta dan kasih sayang harus berbenturan dengan adat itu?? Maksudnya, pria dari kampung A ingin mengambil seorang wanita yang sangat dicintainya dari wilayah kampung yang secara adat dilarang. Bila ditilik dari garis keturunan jelas sudah sangat jauh hubungan pertalian darahnya. Mengapa masih saja tidak diperbolehkan?? Kenapa hubungan pertalian darah dekat malah diperbolehkan?? Bila dipaksakan pun hanya akan menjadi bahan cacian, makian serta pengucilan didalam masyarakat.

Sungguh tragis. . . . . Buat apa kita beragama kalau kita lebih mementingkan adat daripada agama. Bukankah secara ajaran agama, tidak ada penyelewengan terhadap ajaran-ajaranNya.

“Cinta telah berdiri di antara mereka, mengepakkan sayap untuk menjaga keduanya dari cercaan dan tikaman lidah-lidah manusia. Aku melihat saling pengertian tumbuh dari wajah-wajah jernih yang memancarkan keikhlasan dan dikelilingi kesucian. Baru kudapatkan untuk pertama kali selama hidupku, bayang-bayang kebahagiaan seorang pria dan wanita yang dihinakan oleh tatanan agama, dan dikucilkan oleh hukum-hukum manusia.” (Khalil Gibran)

Cinta yang dibangun dan dibina berlandaskan kasih karunia Tuhan tak akan dapat diruntuhkan oleh siapaun juga, termasuk aturan-aturan adat. Sudah saatnya hukum serta peraturan adat diformalisasi dan kembali pada sifatnya yang memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis.

“Apakah manusia akan terus menerus menjadi hambatan tatanan hukum yang bobrok sampai akhir zaman? Ataukah hari-hari cerah akan membebaskan manusia agar dapat hidup dengan jiwanya? Apakah manusia akan tetap dibungkus dengan debu? Ataukah ia hadapkan kedua matanya ke arah matahari, agar tak dapat melihat jasadnya di antara onak dan bongkahan tulang-belulang?” (Khalil Gibran)

*** The Myth ***

Advertisements
  1. Adat versu Cinta?? upssssssss…….sebuah opini yang menarik. kalau seandainya semua orang punya kesempatan untuk membaca opini ini dan merenung sejenak, kemungkinan keseimbangan antara liberalis, demokrasi dan mordenisasi…Ya……….kuyakin akan tumbuh dengan baik dalam daerah kita yang masih “bayi ” ini. kita baru berdiri sebagai wilaya yang punya otonomi sendiri. Maju terus sumba Tengah……….Sukses pemimpinnya dan sejaterahlah Rakyatnya. Grace of GOd be with You allways.

  2. Harapan dari tulisan ini adalah membantu orang-orang yang terbentur oleh kungkungan hukum dan aturan adat.

    Tiada hati tuk bertingkah laku antipati, tapi hati tulus untuk membuka mata, telinga dan hati khalayak warga Sumba bagi kemajuan dan kejayaan SUMBA.

    Semoga tulisan ini dapat menjadi cerminan bagi beragam persoalan dan permasalahan masyarakat SUMBA akan hukum dan aturan adat.

    Mohon kritik serta saran yang lain.

    Makasih dan Tuhan Memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: