talora07

Archive for the ‘Berita’ Category

Compiler.h Asterisk 1.2

In Berita on June 22, 2010 at 6:59 pm

Sudah lama ga update blog … sibuk atau sok sibuk 🙂 .

Begini ceritanya : Saat kucoba install Asterisk versi 1.2.12.1 dan pass compile tiba2 muncul error seperti dibawah ini:

chan_phone.c:41:29: error: linux/compiler.h: No such file or directory
make[1]: *** [chan_phone.o] Error 1

Setelah mencoba mencari lewat om google, ketemu dech jawabannya di http://kanghari.blogsome.com/

Caranya ternyata mudah, buka file chan_phone.c dan edit file tersebut yaitu pass dibaris

#include
#if LINUX_VERSION_CODE >= KERNEL_VERSION(2,6,0)
# include #endif

Ubah menjadi:

#ifdef HAVE_LINUX_COMPILER_H
#include #endif

Sekarang coba compile lagi … he he ternyata berhasil dan sukses. OK selamt mencoba!

Advertisements

UKSW-Timor Leste tinggal selangkah lagi

In Berita on December 4, 2008 at 6:27 am

SALATIGA — Menteri Muda Urusan Reformasi Administrasi Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), Florindo Pereira, berkunjung ke UKSW hari ini. Kunjungan tersebut bertujuan untuk membahas negosiasi dan kerjasama bidang pendidikan antara Pemerintah RDTL dengan UKSW.

“Pemerintah Republik Demokratik Timor Leste merasa perlu untuk mengembangkan SDM (sumber daya manusia — Red) pegawai negerinya, sebagai bentuk peningkatan profesionalisme kerja dengan cara menyekolahkan mereka ke luar negeri, sebagian besar ke Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah RDTL memilih perguruan tinggi yang telah terakreditasi, salah satunya adalah UKSW. Pemilihan UKSW dikarenakan banyaknya alumni UKSW yang ada di Timor Leste,” tutur Agna S. Krave, Wakil Rektor Bidang Hubungan Luar dan Kewirausahaan UKSW.

Agna juga menjelaskan, dari data tahun 2006, 12 dari 18 doktor yang dimiliki Timor Leste merupakan alumnus UKSW. Bahkan, Andreas Louis Pinto, atase pendidikan Kedutaan Besar RDTL di Jakarta, sedang mengambil gelar S3 di Program Pascasarjana UKSW.

Hasil kunjungan dan negosiasi tersebut menyepakati antara lain: (1) akan segera dibuat nota kesepahaman antara UKSW dan pemerintah RDTL dalam bidang pengembangan sumber daya manusia. UKSW mengusulkan agar kerja sama dapat diperluas pada bidang penelitian, teknologi informasi, dan pengembangan masyarakat; (2) dalam bulan Juli 2008 akan ada tim dari UKSW yang datang ke Timor Leste untuk mempersiapkan rencana operasi, sekaligus juga penandatanganan nota kesepahaman antara pemerintah Timor Leste dan UKSW; (3) UKSW akan memberi hak istimewa bagi mahasiswa asal Timor Leste dalam bentuk pembiayaan studi yang sama dengan mahasiswa UKSW yang lain. Harapannya, jumlah mahasiswa dari Timor Leste yang ingin berkuliah di UKSW akan bertambah banyak; (4) Florindo Pereira setuju agar para mahasiswa asal Timor Leste dibekali dengan soft skill seperti kepemimpinan, manajemen, penguasaan teknologi informasi, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, pemerintah Timor Leste akan membiayai pengembangan soft skill tersebut. Pemerintah Timor Leste juga akan memberi beasiswa tak hanya kepada pegawai pemerintah Timor Leste, tapi juga mahasiswa Timor Leste nonpegawai pemerintah; (5) UKSW akan memberi beasiswa penuh kepada Januario Soares dan Dominggus Savio, dua mahasiswa Studi Pembangunan Program Pascasarjana, yang tak lain adalah staf pegawai pemerintah RDTL.

Selain membahas kerjasama dengan UKSW, Pereira juga melakukan audiensi dengan para mahasiswa asal Timor Leste yang sedang studi di UKSW. Dari audiensi ini muncul dua permasalahan. Pertama, sosialisasi informasi beasiswa dari Kedutaan Besar RDTL, yang tak pernah sampai kepada para mahasiswa Timor Leste di Salatiga. Kedua, lambatnya pengurusan visa ijin belajar oleh Kedutaan Besar RDTL. Kelambatan ini mengakibatkan seorang mahasiswa UKSW asal Timor Leste dideportasi malam ini.

Laboratorium skripsi FTEK akan menyesuaikan jam kerja

In Berita on December 4, 2008 at 6:15 am

SALATIGA — Awal Juni 2008, pemberitahuan mengenai pembatasan waktu penggunaan ruang laboratorium skripsi Fakultas Teknik Elektro dan Komputer atau FTEK terlontar lewat mulut Sentot Suhartanto. Suhartanto adalah laboran FTEK. Pemberitahuan itu disampaikan pada para mahasiswa di laboratorium skripsi. Salah satu mahasiswa yang berada di sana saat itu adalah Haryo Adi Rumantyo (”Antyo” panggilannya — Red), mahasiswa FTEK angkatan 2002 yang tengah menyusun skripsi.

Menurut Antyo, Suhartanto berkata bahwa untuk sore itu (10 Juni 2008), batas penggunaan laboratorium skripsi hanya sampai akhir jam kerja atau pukul 16.00. Setelah jam itu, semua mahasiswa tidak boleh menggunakan laboratorium skripsi.

Bagi mahasiswa, aturan itu jelas tidak berpihak pada mahasiswa dan sangat memberatkan. Indra Adhi Kurniawan, mahasiswa FTEK angkatan 2002, menyampaikan beberapa alasan seperti: (1) saat siang hari, suhu ruang laboratorium sangat panas hingga menggangu konsentrasi mahasiswa; (2) suara bising di dalam dan luar ruang cukup menggangu; (3) peralatan yang tersedia dirasa kurang, sehingga, untuk menyiasati hal tersebut, mahasiswa bersepakat untuk bergantian menggunakannya; (4) saat ini sering mati lampu di siang hari; (5) penggunaan laboratorium skripsi di atas pukul 16.00 selama ini tidak pernah menimbulkan masalah.

Beberapa hari setelah pengumuman itu, Antyo dan temannya, Tommy Adriadi, mencoba bertanya langsung pada dekan FTEK, Handoko. Pertanyaan yang mereka sampaikan, mengapa harus sampai seketat itu aturannya? Menurut Handoko, sebenarnya ini bukanlah aturan baru di FTEK. Oleh karena itu, perlu ada kedisiplinan dalam penerapan aturan yang telah ada.

Handoko juga melihat, penggunaan laboratorium skripsi pada siang hari tidak dimanfaatkan para mahasiswa dengan maksimal. Ketika beberapa kali inspeksi mendadak ke laboratorium skripsi pada siang hari, ruang terlihat sepi dengan beberapa mahasiswa saja di dalamnya. Handoko juga menginginkan agar saat-saat pagi hingga sore dimanfaatkan mahasiswa untuk saling mengakrabkan diri dengan berdiskusi.

Bagi Antyo, hal itu dapat dibenarkan bila mereka adalah anak sekolahan. Namun tidak bagi mahasiswa FTEK, karena ada banyak hal yang masih harus mereka kerjakan seperti pembuatan maket yang sering tidak dapat dilakukan di dalam laboratorium. Maka wajar bila laboratorium terlihat sepi saat siang hari.

Aturan itu juga dianggap Antyo tidak adil karena penggunaan ruang laboratorium robotika diperbolehkan selama 24 jam. Ketika hal ini mereka tanyakan pada Handoko, jawabannya karena para mahasiswa yang menggunakan laboratorium robotika ada di bawah bimbingan, dan pembimbing bertanggungjawab atas penggunaan laboratorium tersebut. Sebuah jawaban yang tak memuaskan, bagi Antyo.

Handoko juga mempermasalahkan penggunaan peralatan laboratorium skripsi untuk tugas rancang atau TR. Para mahasiswa yang mengerjakan TR sering menggunakan peralatan laboratorium skripsi pada malam hari, karena punya hubungan pertemanan dengan mahasiswa yang mengerjakan skripsi.

Handoko mengatakan bahwa kebijakannya berlandaskan asas keadilan. Hanya mahasiswa yang punya teman di laboratorium skripsi saja yang bisa menggunakan peralatan di sana. Bagaimana dengan mahasiswa lain yang tidak punya hubungan pertemanan? Tentu hal itu tidak adil bagi mereka. Lagipula, untuk pengerjaan TR, mahasiswa sudah diberi waktu tersendiri di laboratorium praktikum.

“Lab skripsi khusus untuk mengerjakan skripsi,” kata Handoko.

Keselamatan kerja itu penting
Bagi Handoko, yang sejak 2007 menjabat dekan FTEK, aturan yang membatasi penggunaan laboratorium skripsi hingga jam kerja usai telah ada sejak dulu. Namun pengetatan aturan ini baru akan dilakukan pada tahun akademik 2008/2009.

Ketua Program Studi Teknik Elektro, F. Dalu, mengatakan, dulu mahasiswa boleh mengerjakan skripsi sampai larut malam karena mereka betul-betul ingin melanjutkan skripsi yang tertunda di pagi dan siang hari. Namun yang terjadi sekarang tidak seperti itu lagi, menurutnya. Lebih banyak mahasiswa yang menggunakan waktu di malam hari untuk mengerjakan skripsi, sedangkan saat jam kerja tidak mereka kerjakan.

Handoko mengatakan, ia sangat memikirkan keselamatan kerja para mahasiswanya. Ketakutan akan terjadinya kecelakaan kerja memang ada. Apalagi tidak ada laboran yang menjaga dan mengawasi saat malam hari.

Menanggapi beragamnya alasan, seperti ada mahasiswa yang nyambi bekerja siang hari hingga tak dapat mengerjakan skripsi saat jam kerja, Handoko menyatakan bahwa penerapan aturan ini sifatnya fleksibel. Ia berkata tetap akan memberikan toleransi pada mereka yang ingin menggunakan laboratorium skripsi di luar jam kerja selama mereka punya alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

“Para pembimbing juga perlu melihat sejauh mana perkembangan skripsi mahasiswa bimbingannya. Dan hal itu hanya dapat dilakukan pada jam kerja saja, karena mereka tidak mungkin melakukannya di malam hari,” terang Dalu.

Handoko, Suhartanto, dan Dalu menjelaskan bahwa secara kuantitas, fasilitas laboratorium skripsi memang masih kurang. Saat ini di laboratorium tersebut baru tersedia 30-an meja kerja dengan peralatan macam osiloskop, multimeter, dan sebagainya. Karenanya, mereka berharap para mahasiswa yang telah mendapat fasilitas tersebut dapat memakainya sebaik mungkin. Ada banyak mahasiswa FTEK lain yang masih menunggu memakai fasilitas tersebut. Mereka juga mengatakan bahwa mereka sedang berusaha memperbaiki fasilitas laboratorium skripsi dari segi kuantitas dan kualitas.

Di FTEK, para mahasiswa yang dapat memakai fasilitas laboratorium skripsi harus melalui beberapa tahap. Mereka harus registrasi dan membuat proposal skripsi. Bila sudah melewati kolokium, mahasiswa akan mendapat surat tugas untuk mengerjakan skripsi dan mendapat kartu ijin kerja laboratorium.

Harapan besar
Handoko berkata, sosialisasi aturan ini masih belum ada. Namun ia berjanji akan segera menyosialisasikan aturan ini secara resmi dalam waktu dekat.

Bagus Ferry Permana, mahasiswa FTEK angkatan 2001 yang juga wartawan Scientiarum, berpendapat bahwa aturan harusnya disesuaikan dengan kebutuhan. Pemimpin harus melihat kondisi di bawah dulu (kebutuhan mahasiswa — Red), baru membuat kebijakan. Ini karena kebijakan dibuat untuk mahasiswa, bukan untuk pembuat kebijakan.

“Peraturan harusnya bottom-up dan bukannya top-down,” kata Ferry.

Ferry juga menyayangkan sikap fakultas yang tidak mau berdialog lewat forum terbuka.

Handoko menuturkan, sebenarnya ada yang harus mahasiswa pahami tanpa forum terbuka. Mereka punya senat mahasiswa fakultas dan badan perwakilan mahasiwa fakultas sebagai wakil yang dapat menyalurkan aspirasi sebelum forum terbuka diadakan.

“Kami akan bahagia sekali bila laboratorium skripsi dibuka selama 24 jam, asalkan selalu terisi penuh,” kata Handoko.

Pilih Sponsor atau Budaya?

In Berita on November 10, 2008 at 9:21 am

expo-budaya-2008
SUMBER: ARSIP PANITIA EXPO BUDAYA 2008
Karnaval Expo Budaya 2008 melintas di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.

SALATIGA – Pada 9-11 April 2008, berlangsung sebuah perhelatan besar di Universitas Kristen Satya Wacana, yang menyuguhkan keanekaragaman budaya Indonesia. Diberi sebutan “Expo Budaya 2008,” perhelatan ini menyajikan beragam khazanah budaya berupa tari-tarian, pakaian adat, masakan daerah, lagu daerah, serta pernak-pernik adat.

Menurut Ketua Umum SMU (Senat Mahasiswa Universitas — Red), Shinta Rambu Yaku Anasida Sabaora, dengan melihat fenomena budaya modern yang berkembang pesat di Indonesia, maka UKSW sebagai kampus “Indonesia Mini” sudah selayaknya menyuguhkan keberagaman budaya etnis dalam sebuah event budaya. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan keberagaman budaya di UKSW kepada para mahasiswa baru dan seluruh sivitas akademika.

“Tema yang diangkat expo budaya tahun ini adalah ‘Show Your Culture,’” tutur Rosemary Juliend Parhusip, Ketua Panitia Expo Budaya 2008. Melalui tema tersebut, panitia berharap agar keberagaman budaya yang ada di kampus “Indonesia Mini” ini dapat terangkat kembali seperti tahun sebelumnya.

Rangkaian kegiatan Expo Budaya 2008 hari pertama dimulai dengan karnaval. Rute dimulai dari kampus UKSW menuju Jalan Monginsidi, Jalan Kartini, Lapangan Pancasila, Jalan Sukowati, Jalan Jenderal Sudirman, Tamansari, Jalan Diponegoro, dan kembali lagi ke kampus. Kemudian dilanjutkan dengan tarian kolaborasi etnis, teater, serta vocal group.

Pada hari kedua, acara dimulai dengan drama etnis, dan dilanjutkan peragaan pakaian adat, tarian etnis, dan vocal group etnis.

Sebagai puncak dari Expo Budaya 2008, pada malam hari ketiga digelar pementasan musik dari setiap etnis, yang ditutup dengan musik “anak muda” dari Gerbang, band asal Yogyakarta (juara LA Lights Indiefest 2006), dan band asal Australia, Young and Restless.

***

Jumat, 11 April 2008, sekitar pukul 21.00, saya datang ke lapangan sepakbola UKSW untuk menonton pementasan musik malam terakhir Expo Budaya 2008. Di sana telah berdiri dua buah panggung. Panggung utama terletak di sebelah timur dan diperuntukkan bagi band bintang tamu. Sedangkan panggung kedua untuk band dan tarian etnis.

Tepat saat band etnis Batak tampil, ketidakpuasan menghinggapi saya.

“Kenapa saya mesti datang kalau hanya menonton tampilan band dengan kualitas sound system yang buruk?” batin saya.

Beruntung malam itu saya bisa mengobrol dengan Hans Cristian Mesa dan Dimas Priambodho Umbu Bolu Tagukoda. Hans adalah SC (steering commitee — Red) Expo Budaya 2008. Sedangkan Dimas adalah seksi keamanan panitia.

“Ada apa dengan sound system-nya? Suaranya tidak terdengar jelas,” kata saya.

“Aku juga bingung nih. Sound system malam ini ditanggung dan diurus penyediaannya oleh pihak sponsor (Djarum — Red),” jawab Hans.

Hal itu diamini juga oleh Dimas. Selain sebagai panitia, Dimas juga personel salah satu band etnis yang merasakan jeleknya kualitas sound system saat itu.

“Suaraku gak terdengar sama sekali, Mas. Pingin nangis rasanya saat itu juga,” tutur Dimas, sambil tersenyum.

Pukul 22.30. Ketika penampilan etnis tinggal satu (tarian etnis Timor — Red), panitia terlihat sibuk kesana-kemari. Salah satu panitia menghampiri Hans yang berdiri di sebelah saya.

“Kak, bagaimana ini? Pihak sponsor sudah memanggil MC acara untuk pindah ke panggung utama, padahal masih ada satu etnis yang tersisa,” kata panitia itu. Hans pun langsung turun tangan.

Selang beberapa menit, Hans datang dan bercerita bahwa tarian etnis Timor tidak dapat tampil karena permasalahan teknis kabel sound yang tidak cocok dengan sambungan kabel mixer.

Panggung utama tiba-tiba aktif. MC acara mengundang para penonton untuk berpaling ke arah panggung utama. Penonton pun merasa bingung, karena MC sebelumnya tidak menyatakan bahwa performance akan pindah panggung. Terlebih lagi, para simpatisan etnis Timor masih menantikan “Dance Timor” muncul.

Ketidakpuasan langsung terlihat dari para penari dan simpatisan etnis Timor. Sekelompok pemuda Timor langsung menuju ke arah kami, dan meminta Hans menjelaskan kejadian yang sebenarnya.

“Bagaimana penyelesaiannya?” tanya seorang dari mereka.

Sampai saya pulang, kejelasan tentang duduk perkara itu masih belum terjawab.

***

Senin, 14 April 2008, pukul 16.30, di ruang rapat LKU (Lembaga Kemahasiswaan Universitas — Red) diadakan sebuah pertemuan atas inisiatif pihak etnis Timor untuk membicarakan duduk perkara, serta bentuk penyelesaian kasus 11 April 2008.

Pertemuan ini dihadiri Ketua Umum SMU, Ketua IKMASTI (Ikatan Mahasiswa Timor — Red) beserta keempat temannya, serta para panitia.

Di awal perbincangan, Shinta selaku Ketua Umum SMU memberi pernyataan bahwa pembatalan penampilan tarian etnis Timor baru diketahuinya setelah kejadian. Saat ia bertanya kepada panitia malam itu juga, mereka menjelaskan bahwa ada kesalahan teknis dan tarian etnis Timor dipindahkan ke akhir acara.

“Sesuai perjanjian antara panitia dan (kelompok) etnis, satu menit keterlambatan karena persiapan yang kurang, ataupun masalah teknis lainnya, maka etnis itu tidak akan tampil,” tutur Juliend, membenarkan pernyataan Shinta.

Namun, karena panitia ingin semua etnis tampil, maka etnis Timor diberi waktu memperbaiki kesalahannya dan di-roll ke akhir acara.

Shinta merasa senang dengan pertemuan ini, karena duduk perkara yang sebenarnya dapat diceritakan dengan sejelas-jelasnya agar versi cerita yang berkembang adalah versi yang pasti, dan dapat dicarikan solusi.

“Kami datang ke sini dengan itikad baik, ingin meminta pertanggungjawaban atas penghentian tarian etnis kami, serta siapa yang akan bertanggungjawab nantinya,” kata Richard Mayopu, Ketua IKMASTI.

“Ardi,” demikian Richard Mayopu biasa dipanggil, menjelaskan bahwa etnis Timor merasa dipermalukan dan ingin agar image buruk mereka diperbaiki. Dia menambahkan, sempat ada penuturan panitia yang menusuk hati.

“Etnis Timor tidak dapat tampil karena kesalahan teknis yang dilakukan oleh kalian,” tegas Ardi.

Menurut Ardi, sepertinya faktor kelalaian teknis dan kesiapan panitia tidak diperhitungkan sama sekali. Selain itu, rasa percaya diri para penari harus dikembalikan, karena akan berdampak pada keikutsertaan mereka pada expo budaya tahun mendatang.

Hans, mewakili panitia, menjelaskan bahwa mereka dapat memahami dan menyadari penyesalan yang dialami oleh etnis Timor terhadap kinerja panitia pada malam itu. Permintaan maaf panitia secara lisan langsung disampaikan saat itu juga.

Hans mengatakan bahwa sebenarnya kendala acara pada malam itu dikarenakan kurangnya koordinasi dan persiapan antara pihak panitia dan sponsor. Koordinasi antara panitia dan sponsor hanya dilakukan seminggu sebelum kegiatan berlangsung. Sehari sebelum kegiatan pun, pihak sponsor masih meminta perubahan susunan acara.

“Sebenarnya tidak ada perjanjian resmi hitam di atas putih dengan pihak sponsor. Yang ada hanya pertemuan untuk membicarakan koordinasi acara saja,” kata Juliend. Ia juga menambahkan, Djarum lah yang menawarkan diri sebagai sponsor tunggal puncak kegiatan hari ketiga.

“Kami selaku panitia tidak ada maksud sama sekali untuk ‘menganakemaskan’ sponsor,” tutur Hans.

Hans juga menjelaskan bahwa pada malam itu, panitia sempat meminta sponsor untuk memikirkan solusi terbaik agar para pengisi acara (etnis — Red) jangan sampai di-cut penampilannya.

Hans bersama beberapa anggota panitia saat itu sempat bertemu dan menawarkan ke sponsor, “Bagaimana jika setelah band bintang tamu selesai tampil, sisa etnis yang belum sempat tampil ini dilanjutkan lagi penampilannya di panggung yang sama, seperti yang digunakan oleh band bintang tamu? Atau jika tidak, bisakah sisa etnis yang belum sempat tampil ini disisipkan saja di antara para band bintang tamu?”

Namun sponsor tidak menyetujui usulan tersebut. Sampai dengan pembicaraan berakhir, tidak ada solusi terbaik untuk penampilan etnis Timor.

Setelah Hans selesai berbicara, Ardi menambahkan bahwa sebenarnya tujuan mereka datang ke pertemuan ini bukan untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi lebih kepada mencari solusi penyelesaian, agar informasi hasil pertemuan ini dapat disampaikan lagi kepada teman-teman etnis Timor.

Setelah berlangsung selama hampir satu jam, muncul solusi penyelesaian yang disepakati bersama antara pihak etnis Timor, panitia, dan SMU. Kesepakatan itu berupa pernyataan maaf tertulis kepada etnis Timor melalui media yang ada, seperti Scientiarum, Buletin Senin, dan Buletin Lembaga Kemahasiswaan.

“Sesungguhnya, tidak ada yang patut dipersalahkan ataupun dijadikan kambing hitam,” kata Umbu Rauta, Wakil Rektor III UKSW. Menurut Umbu, yang terjadi adalah kesepakatan antara sponsor dan panitia tidak dijalani dengan semestinya oleh kedua belah pihak.

“Saya tidak bisa mengatakan bahwa pihak sponsor patut dipersalahkan sepenuhnya. Toh mereka telah memberikan kelonggaran waktu 1,5 jam kepada panitia. Selain itu, dari 12 lagu yang rencananya akan dinyanyikan oleh band bintang tamu, pihak Djarum telah mengurangi lagi menjadi 6 buah lagu. Dan itu yang tidak diketahui oleh pihak panitia maupun penonton,” tutur Umbu.

Umbu Rauta berharap, setiap kegiatan LK yang menggunakan sponsorship dapat berkomitmen terhadap perjanjian (tertulis maupun tidak tertulis) yang telah disepakati, agar tidak terjadi hal serupa seperti Expo Budaya 2008.

Mahasiswa Passau Kunjungi UKSW

In Berita on November 10, 2008 at 9:04 am

SALATIGA — Senin, 31 Maret 2008, pukul 16.00. Sebuah bus pariwisata yang berpenumpang warga negara asing masuk ke dalam areal kampus UKSW. Saya melihat dan bertanya-tanya. Siapakah mereka? Apa yang mereka lakukan di kampus ini?

Informasi yang saya peroleh menyebutkan bahwa rombongan tersebut adalah para mahasiswa Universität Passau, Jerman. Rombongan terdiri dari 24 orang mahasiswa yang dipimpin oleh seorang profesor, Susanne Schöter. Kedatangan mereka dalam rangka study tour ke beberapa universitas di Indonesia. UKSW adalah salah satunya, karena telah menjadi mitra. Sebelumnya, telah ada beberapa mahasiswa Passau yang mengikuti program pertukaran mahasiswa dengan UKSW.

Saat ditemui di depan Gedung Administrasi Pusat, Lisa Marshall dan Miriam Kropp, salah dua anggota rombongan, menuturkan kesan yang mereka dapatkan setelah berkeliling kampus UKSW. “It’s a really nice university,” kata Miriam.

Lisa Marshall adalah mahasiswi jurusan ekonomi, bahasa, serta politik. Sedangkan Miriam Kropp adalah mahasiswi jurusan ekonomi dan budaya. Mereka bisa berbahasa Indonesia, walau sedikit.

Marshall menjelaskan bahwa study tour ini mengambil rute dari Jakarta, Bandung, Salatiga, Yogyakarta, kembali lagi ke Jakarta. Dari Jakarta, mereka kemudian bertolak pulang ke Jerman.

Marshall dan Kropp menyempatkan diri mengunjungi kantor redaksi Scientiarum. Bersama dengan seorang mahasiswa Passau yang lain, Andy, mereka ingin melihat seperti apa wajah pers kampus di UKSW. Lucunya, Andy, sambil menyalakan kamera videonya, balik mewawancarai anggota redaksi Scientiarum yang sedang bertugas saat itu.

Pembukaan PESPARAWI Mahasiswa Tingkat Nasional X

In Berita on November 9, 2008 at 2:19 pm

SALATIGA – Ibadah pembukaan Pesparawi Mahasiswa Nasional X dilaksanakan di stadion Kridanggo, Salatiga (28/10/2008). Para tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut antara lain, Mendiknas yang diwakili oleh Dirjen Dikti Fasli Djalal, Gubernur Jawa Tengah yang diwakili kepala Biro Fudamental Edi Susanto, Walikota Salatiga, John manuel Manoppo, Komandan Korem 073 Salatiga, Kapolres kota Salatiga, Muspida tigkat kota Salatiga, para camat se-Kota Salatiga, Pembantu Rektor tiga dari perguruan tinggi negeri di sekitar Jawa Tengah.

“Rangkaian kegiatan dimulai pukul 14.00 WIB dengan Ibadah pembuka dalam bentuk Oratorium. Tujuannya akan tercipta pujian yang bersifat religius,” tutur MC acara.

Renungan dipimpin oleh Pdt. Dr. daniel Nuhamara, M.Th. Dalam khobathnya Daniel Nuhamara mengingatkan agar selalu mengucap syukur atas karunia yang telah Tuhan berikan, yakni suara merdu yang dimiliki oleh para peserta Pesparawi. Dan kegembiraan adalah ketika kita mengakui kebesaran-Nya.

Selesai ibadah, acara dilanjutkan dengan laporan dari ketua Panitia Soni Heru Priyanto, lalu berlanjut ke penampilan paduan suara dari Akademi Polisi, Semarang (AKPOL, Red). Paduan suara AKPOL tampil dengan sangat maksimal. Tebukti dengan banyaknya penonton yang maju ke depan panggung, sekedar untuk mengambil foto maupun menonton penampilan mereka dari jarak yang lebih dekat.

Selesai PS AKPOL tampil, berlanjut ke sambutan-sambutan. Sambutan pertama oleh Rektor UKSW, dilanjutkan sambutan dari Gubernur Jawa Tengah, yang diwakili oleh Biro Fundamental provinsi Jawa Tengah. Di sela sebelum sambutan terakhir sekaligus peresmian acara, para tamu undangan dihibur oleh tarian Aceh.

Dalam sambutan Mendiknas yang diwakilkan Dirjen Dikti mengatakan, bahwa “kami (Diknas,Red)berharap semua yang terlibat di dalam acara ini dapat memperoleh manfaatnya”. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan peresmian acara yang ditamndai dengan pemotongan balon ke udara dan bunyi sirine panjang.

Pengukuhan dan pelantikan dewan juri Pesparawi sebanyak lima orang.

Rangkaian acara Ibadah pembuka sekaligus peresmian Pesparawi Mahasiswa X ditutup dengan atraksi Marching Band AKPOL. Semuanya berakhir tepat pukul 16.00 WIB, sebelum dilanjutkan dengan defile ke kampus UKSW.

(Ferdinand U.R. Anaboeni)

Malam Budaya PIBBI

In Berita on August 14, 2008 at 11:11 am

SALATIGA — Griya Pelatihan Bahasa Universitas Kristen Satya Wacana menggelar Malam Budaya pada 18 Juli 2008 di Laras Asri Resort & Spa. Malam Budaya ini digelar sebagai acara perpisahan peserta program Pengenalan Intensif Bahasa dan Budaya Indonesia (PIBBI) ke-53.

Malam Budaya diisi dengan peragaan seni membatik, memasak, dan gamelan oleh para peserta PIBBI. Ada pula penampilan Ashira Choir yang membawakan lagu bahasa Jawa, Gethuk. Para peserta PIBBI dan staf Griya Pelatihan Bahasa membawakan lagu Apuse asal Papua dalam satu permainan angklung bersama.

Pada puncak acara, dilakukan pembagian ijazah dan cinderamata — berupa selendang serta gelang asal Papua — kepada duabelas lulusan PIBBI ke-53. Berikut adalah nama-nama peserta yang lulus dengan tingkat yang berhasil mereka capai: Anton Harper (tingkat dua), Carissa Liddle (tingkat dua), Kestrel Andrews (tingkat dua), Lyla Kere (tingkat dua), Amy Durston (tingkat empat), Jamie Stoops (tingkat empat), Zhipeng Huang (tingkat empat), Megan Frazer (tingkat lima), Jacinta Spinks (tingkat enam), Luke Rafter (tingkat enam), Nick Tamblyn (tingkat enam), dan Toby McFadden (tingkat enam).

Tingkat menunjukkan jenjang pendidikan bahasa yang peserta tempuh selama program PIBBI. Tingkat tertinggi adalah tingkat enam.

“Saya sangat senang bisa berada di sini, dan bagi saya semua yang telah saya lalui dan jalani selama empat minggu ini sangatlah bermanfaat,” tutur Luke Rafter, peserta yang berasal dari Australia.